CERITA KISAH INSPIRASI

Kisah Umroh-ku

By

Hai, Pecinta Pena Meriani!

Apa kabar, Pecinta Pena Meriani? Semoga dalam lindungan Alloh SWT, ya!

Kali ini saya ingin menuliskan kisah perjalanan umroh ku saat November 2018 lalu.

Saya sengaja menuliskannya bukan untuk pamer tetapi untuk membuat sebuah kenangan jika rindu kabah.

Kenapa saya bisa umroh?

Ini bukan berarti saya punya banyak harta. Tetapi adalah sebuah ketentuan Alloh SWT yangyang mencuku untuk bisa berangkat atas panggilannya. Uang tabungan memang ada yaitu tabungan rencana.

Tabungan tersebut merupakan tabungan yang dianggap sebagai uang dingin. Setiap bulan disisihkan seratus ribu rupiah dan juga lima ratus ribu rupiah.

Alhamdulillah sudah 4 tahun terkumpul. Kemudian ditambah lagi dengan penghasilan bulanan dan bukan dari uang suami. Waktu berminggu-minggu saya menghitung uang yang ada. Entah ada ilham apa sehingga saya bisa berangkat umroh.

Beberapa waktu sebelum berangkat, saya banyak bertanya tentang keberangkatan umroh kepada seorang teman dikala SMP, namanya Nia Nurhasanah. Beliau menyarankan ke Travel Kanomas di Tasikmalaya daerah Singaparna.

Dia adalah teman sejak SMP yang bekerja di suatu tempat pemberangkatan Ibadah Haji. Dia memberikan referensi Tour & Travel kepada saya agar perjalanan umroh dilancarkan. Alhamdulillah langsung kontak dengan pemilik Tour cabang Tasikmalaya.

Sejak saat itulah saya diperkenankan untuk melihat acara Manasik Umroh. Saya sempat ga percaya. Waktu itu merinding bulu kuduk dan sempat meneteskan air mata. Hati kecil bertanya, apakah saya bisa berangkat umroh?

Tak lama kemudian, disetiap perjalanan menuju ke kantor dan perjalanan kemanapun saya pergi, selalu ingin melantunkan solawat. Masyaalloh…

Lalu diceritakan kepada ibu bahwa saya ingin berangkat umroh. Uang tunai waktu itu hanya punya 5 juta. Lalu dari manakah uang lainnya?

Sesuatu hal yang mustahil. Tiba- tiba ada uang terkumpul sebanyak 25 juta lebih. Bahkan mencapai 35 juta. Pokoknya hasil mengumpulkan dari tabungan rencana dan gaji bulanan yang terkumpul.

Awalnya hanya membayar DP sebanyak 5 juta  setelah itu sisanya dibayar sebelum keberangkatan. Kenapa saya membayar DP? Karena uang yang ditabungan masih belum cair. Tabungan akan cair setelah 24 jam. Alhamdulillah, sejak cair, langsung dibayarkan lunas.

Saat pelunasan diantar orang tua dan adik. Mereka ingin mastikan bahwa travel yang saya percayai adalah bukan yang neko-neko. Banyak kabar berita di televisi yang menipu jamaahnya. Astagfirulloh…Beruntungnya saya dihindarkan dari hal tersebut.

Saya mengikuti vaksin meningitis agar mendapatkan kartu kuning sebagai kartu keterangan sudah vaksin. Pelaksanaan di daerah pelabuhan Pangandaran agar lebih murah yaitu sekitar Rp.450.000.

Seminggu setelah vaksin dikabarkan bahwa perjalanan umroh akan berangkat pada tanggal  11 November 2018. Alhamdulillah ternyata waktu menuju tanah suci semakin dekat.

Akhirnya kami berangkat dari Tasikmalaya menuju Jakarta untuk naik pesawat Garuda. Bismillah akhirnya terbang.

Di Saudi Arabia kami diperiksa Paspor dan Visa, semua petugasnya tegas-tegas.  Tapi senang sih, bisa bertemu orang arab yang hidungnya mancung-mancung, plus tinggi tinggi. Masyaalloh.

Kami tiba pertama ke Madinah terlebih dahulu agar bisa beradaptasi dengan lingkungan, cuaca serta kebiasaan beribadah di sana. Kemudian kami menuju ke Mekah jika semua ibadah sudah dilakukan di  Madinah.

Di Madinah dengan Payungnya yang Khas

Di Madinah ada hal yang sangat terkenang yaitu taman Raudoh. Di sini tempat segala doa dikabulkan. Semua orang hendak melakukannya menuju Raudoh. Sangat disayangkan bila ke Madinah tidak menginjakan kaki ke Raudoh. Satu travel dari kami mengantri agar bisa masuk. Saya masih ingat pada pintu 25. Iya tepat pintu 25 yang dapat menuju Raudoh. Tempat ini ditandai dengan karpet hijau.

Alhamdulillah tiba di Raudoh didampingi Ustadzah Fatmawati hingga kami bisa solat sunat sebanyak dua rokaat pertama untuk solat sunat tahiyatul mesjid dan dua rokaat kedua solat sunat hajat. Saat hari terakhir di Madinah, saya berniat ke Raudoh lagi, namun kata Bapak pembimbing diusahakan jangan berbarengan dengan teman yang sudah sepuh. Akhirnya saya berangkat sendirian. Bertekad bulat memberanikan diri, padahal menuju tempat ini sangatlah susah, berdesakan bahkan ada yang sampai meninggal karena kurang oksigen.

Selama di Madinah harus selalu dalam keadaan berwudu. Bagi saya wudu itu wajib agar selalu bisa melaksanakan solat, baik solat sunatnya maupun wajibnya, bahkan untuk memperbanyak pahala dengan mengaji.

Berfoto di pintu 25

Di Madinah hanya beberapa hari, lanjut menuju Mekkah. Kami tiba pada malam jumat menuju masjidil harom. Alhamdulillah pada solat subuh pertama kali saya melakukannya sendiri tanpa teman dan rombongan. Mereka kecapekan karena saya adalah paling muda dalam grup satu kamar.

Ada kejadian yang sangat berharga bagi saya yaitu saya bertemu dengan orang Malaysia, namanya Annisa. Dia yang memperkenalkan saya tentang kondisi di hari Jumat pada saat solat subuh. Solat subuh di Masjidilharam dilakukan 3 kali takbir.

 

Pada takbir pertama dibaca alfatihah lalu surat pendek yaitu surat Sajdah. Setelah selesai surat tersebut langsung sujud seperti biasa. Kemudian dilanjutlan dengan takbir kedua ketiga seperti biasanya pada sujud. Yang membedakan adalah pada takbir pertama ditambah surat sajdah setelah alfatihah langsung sujud.

Nah, itu pengalaman di Mekkah yang masih teringat sampai sekarang.

Setelah kegiatan beribadah kami pergi City Tour salah satunya Jabal Rahmah

Jabal Rahmah tempat pertemuan Adam dan Hawa

Lalu City tour ke Jabbal Tsur menggunakan Bis Travel bersama rombongan dari Kanomas Tasikmalaya.

City Tour dan Umroh Kedua

Puji dan syukur alhamdulillah bisa berangkat ke Tanah Suci Mekkah. Semoga kami bisa ke Tanah Suci Lagi. Umroh yang pertama dengan umroh yang kedua merupakan jarak untuk terhapusnya dosa-dosa kita. Aamiin…semoga ada umroh selanjutnya bahkan bisa ibadah haji.

 

 

 

 

You may also like

Post A Comment

Your email address will not be published.